
....sebelumnya aku minta maaf disini aku ingin mencurahkan seluruh hatiku. "ketika jiwaku pergi" itu yang menjadi judul postingan kali ini.
....Tiba - tiba akupun merasa letih. aku merasa letih karena hampir separuh waktu hidupku aku gunakan untuk mencari dimana hatiku kau sembunyikan,
Akhirnya dia pun lulus sekolah dan dia cepat - cepat membuat berkas - berkas untuk melamar pekerjaan tujuannya adalah kota besar. Sebelum kepergiannya ke kota, aku berkali - kali mengunjunginya, ya seperti biasa setelah tiba dirumahnya dia hanya dingin padaku memang aku tidak dilarang untuk bertamu kerumahnya dan akupun merasa betah karena kedua orang tuanya sangat ramah padaku. Kami sesekali berbincang di ruang tamu itu, dia menanyakan hal - hal yang biasa kepadaku dan akupun menanyakan tentang rencananya untuk mengadu nasib di kota tujuannya kota kerawang mengikuti temannya yang sudah lebih dulu merantau disana. Kami lama berbincang walaupun sebenarnya hatiku selalu bertanya apakah pertemuan ini adalah yang terakhir bagi kami, ataukah aku tidak punya kesempatan lagi untuk mengatakan bahwa aku masih sangat mencintainya. Ah... mungkin ini hanya kekhawatiranku saja gumamku dalam hati.
Ada yang aneh dalam diriku, mengapa aku merasa betah jika aku bertamu kerumahnya.akupun mulai menatap wajahnya, matanya, hidungnya, dan rambutnya. Seakan - akan tak ingin kulewatkan momen ini dan kupikir mungkin inilah terakhir kali aku bisa menatap wajahnya dan mendengar suaranya karena besok atau lusa dia akan pergi jauh dari ku sekaligus untuk menghindar dari dekapan cintaku.
Ingin ku kacaukan pikiran negatif itu, dan aku tak ingin merasa bahwa ini adalah pertemuanku yang terakhir dengannya tapi mataku berkaca - kaca setiap aku menatapnya.hatiku menjerit mengapa aku bisa begitu mencintanya hingga untuk melupakannya dadaku terasa sesak, kelu dan aku malah semakin mencintainya.sekaligus aku mencintai keluarga ini.
"Kapan Mamih berangkat ke kerawang?" tanyaku dan kulirik wajahnya. Memang sudah menjadi kebiasanku biasa memanggilnya dengan sebutan "mamih" kupalingkan kembali kearah dinding. "Ga tau kapan, besok mungkin!"
"Emang udah ada kerjaan disana, ikut sama si nok dulu?" terus kuderai matanya. Hatiku pun mulai tak karuan. "Iya sih ikut nok dulu". Sahutku "Terus gimana sama ibu, kata ibu sih udah ga usah kerja ke kota disini ajah.....ngurus si icha, terus..!"
"Ga ah males disini mah, pengen cepet punya uang sendiri". "Aku pasti akan kangen sama kamu, mam..."kecil ku bicara....."yehhh, malah sengaja supaya ga ketemu ma kamu lagih....."sambil diri undur diri ke belakang. dan akupun hanya tertunduk ku pandangi lantai - lantai rumahnya dan aku mulai berpikir akankah aku akan kembali kesini jika dia sudah tidak ada, akankan lantai ini menjadi saksi air mataku yang jatuh berderai dan ketidakberdayaanku mencegahnya jauh dariku. akankah nasib baik berpihak padaku dan mempertemukan kami suatu hari di persimpangan jalan yang dihiasi airmata dan senyuman.
"ya udah atuh, aku ga bisa ngasih apa - apa mungkin hanya sebait doa yang akan kurangkai lewat sujudku untukmu....hanya untukmu"...untuk menahan airmata yang jatuh pelupuk mataku, ku tegakkan wajahku ke langit - langit."iyah makasih, makasih atas semuanya...!" dan setelah itu kami yang terdiam. Airmataku telah jauh terjatuh dalam larap rindu hatiku yang terdalam dan aku tak ingin berkata - kata lagi karena itu membuat diri ini semakin tak berdaya dalam kesedihanku.
Setelah satu jam, aku pun pamit padanya dan pada orang tuanya ku katakan padanya untuk mengabariku jika dia pulang dan jangan sungkan untuk menghubungiku jika ada apa - apa.....! Setelah undur diri hatikupun terhempas, terlempar diterjang badai kerinduan. ku usap air mata kecil di pelupuk mataku lalu berkata "Jika kegelapan menutupi pohon dan bunga - bunga dari mata kita, namun kegelapan ini takkan menutupi cinta hati kita"
Rabu, 02 Desember 2009
Diposting oleh teritorialkrizna di 12/02/2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)









1 komentar:
wah lumayan bagus,d tgu lg posting nya yng lebih mengejutkan...hahahaaaa...
Posting Komentar